Bali is Our New Home

Akhirnya kembali menulis blog kembali setelah struggling menjadi Ibu baru. How’s life? Pastinya penyesuaian dengan anak bayi masih terjadi dan belum juga selesai menyesuaikan diri dengan sibayi kelar.. saya dan keluarga pun harus menyesuaikan dengan lingkungan baru πŸ˜† Ya kami hijrah…..ke Bali.

Mungkin yang follow IG saya sudah pada tau lah yaa (karena memang saya lebih sering update di IG daripada di blog ini) kami akhirnya hengkang juga dari (pinggiran) Jakarta.

Singkat cerita, awal tahun 2015 cumamih pernah di tawarkan oleh sebuah perusahaan di Bali , tapi lagi2 saya yang berat karena pada saat itu semua bisnis yang saya pegang lagi growing2nya jadi saya pun masih melakukan penolakan keras dan males ribet (yaa, pindahan itu ribet baanget πŸ˜‚) lalu setelah Sagara lahir, cumamih kembali di hubungi oleh perusahan ini . Saya pun mulai mempertimbangkannya.

Salah satu yang menjadi pertimbangan besar saya adalah Sagara. Saat dimana saya lihat hiburan outdoor macam taman / pantai di Jakarta susah banget dicari (ya ada sih taman tapi disebelah mall ujung2nya nge mall lagi) , saat dimana living cost di daeraah BSD makin lama makin naik (ya harga tanahnya juga naik sih) tapi kami sudah mulai ga sanggup kalau keluar rumah paling gak harus mengeluarkan kocek paling minimal 500rb sedangkan kami masih jadi company slave dan bisnis saya juga yang omsetnya masih “sesek napas tiap bulannya”….dan baiklahhh akhirnya finalll ketok palu kami siapkan jiwa dan raga untuk pindah dan jadi orang daerah.

Alhamdulillah semua proses lancar, rumah BSD cepat dapat penghuni (kontrakan) baru , dan kami pun setelah lebaran juga sudah dapat rumah baru di Bali. *Anyway yang tanya rumah BSD diapain? sofar kita kontrakan , itung2 investasi . Tidak memungkiri kalo betah disini ya beli rumah di Bali #amiinsegedetoamesjid*

Tapi Bali kan mahal? 😁😁😁

Mahal disini itu pilihan. Kebetulan dan rejekinya kami dapat rumah di daerah Dalung .. 15 menit ke kerobokan , 10 menit ke canggu , 20 menit ke seminyak… Naik motor!! Di dalung banyak pendatang , jadi isinya mostly orang jawa atau keluarga2 muda Bali.

Untuk urusan mahal, alhamdulillah disini kita di kasih banyak pilihan murah.. Pecel ayam 15rb udah nasi + tahu + ayamnya . Sate Ayam 10rb an . Lauk2 pilihannya dari 5rb perak. Biasanya saya belanja di Pasar Modern BSD untuk seminggu bisa habis 300rb disini saya belanja mingguan cuma habis 150rb. Iuran lingkungan alias IPL di BSD pling murah 230rb / bulan disini kami cuma habis 60rb / bulan (sampah, kebersiha , bayar banjar) #wowfakta .Parkir di mall Aeon atau pim biasanya abis seharian 30rb , disini cari spot parkir di pantai yang berbayar 5rb tapi kalo dapet spot gratis yaa gak bayar. Hiburan ya tinggal ke pantai atau ke air terjun paling mentok abis buat beli kelapa saama jagung bakar , kira – kira 30rb lah paling mahal hehehehe.. iya hidup secara lokal bukan ngikutin gaya hidup turis.

Keuntungan saya tinggal di Dalung ini adalah kena pinggirannya canggu.. Yang spot2 coffeee shop / cafe or restorannya banyak yang gak begitu pricey karena disini banyak bule2 mudaa yang keuangannya juga ketat πŸ˜‚πŸ˜‚ jadi harga2nya sangat bersaing beda sama bule2 sanur / nusa dua hahahaha. Biasanya saya milih tempat yang udah plus tax jadi gak berasa berat atau bahkan warung2 pinggir pantai aja biar makin murah πŸ˜‚ Nanti akan saya bahas satu persatu spot cafe muraa ala ibu-ibu canggu di next post ya.

Another plus hidup di daerah (Bali) adalah toleransi nya yang sangat tinggi. Disini kami percaya karma, jadi apa yang kami berikan baik atau buruk kepada umat apapun akan kembali ke diri kita. Contoh :Sholat ied kemarin yangmengatur jalanan adalah pecalang umat hindu. Depan Mesjid ada jualan shiobakk yaa santaii ajaaa…hahahaha! Hal yang sangat ingin saya tanamkan ke Sagara sejaak dini pastinyaa.. toleransi SARA.

Bali adalah rumah kami dari semenjak saya dan pras kenal. Bap melamar eboo di Bali. Kami gagal IUI healing process move on-nya juga di Bali. Hamil Sagara juga dapetnya setelah dari Bali. Sekarang rejeki Sagara jadi anak Bali. Semoga kehidupan disini bisa membuat kami menjadi lebih baik walau memang berat rasanya jauh dari sanak saudara. But that’s life , kita ga akan pernah tau kemana arah nya akan membawa kita..yang kita bisa adalah menjalaninya

Saya resmi jadi ibu ibu rantau.. Ibu2 rantau mana suaranyaaa???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s